Saya termasuk satu dari ribuan pekerja Jakarta yang menggunakan transportasi umum sebagai alternatif utama (satu-satunya) ketika bepergian.
And as one out of many, i sure can tell you this : I LOVE public transportation!!
Despite the pity conditions of the vehicles, naik bus, metro mini, mikrolet, angkot, busway atau apapun sebutannya, bagi saya naik angkutan umum sangat menyenangkan.
Banyak hal yang bisa saya lihat dan alami selama di perjalanan.
Di pagi hari, on my way to work, saya bisa melihat wajah-wajah para pekerja Jakarta dalam berbagai ekspresi :
1. Mata memandang tanpa fokus yang jelas alias menerawang… Mungkin memikirkan kira-kira sebanyak apa kerjaan yang akan dibebankan atasan padanya hari ini, tentang jumlah gaji yang nggak naik-naik, tentang rekan kerja yang menyebalkan, tentang kemungkinan pindah kerja karena gaji yang lebih ‘menggiurkan’, dan sebagainya.
2. Mata yang (tetap) menerawang, dengan sesekali tersenyum atau bahkan (sedikit) tertawa. Untuk tipe yang satu ini, ada kemungkinan sang pemilik wajah sedang membayangkan kencan romantis yang baru dialaminya kemarin malam, tentang kemungkinan naik jabatan karena rekomendasi bos, tentang rekan kerja (orang yang kerja di gedung yang sama) yang OK dan sepertinya cocok dijadikan gebetan, atau yang lainnya..
3. Mata celingak-celinguk kiri-kanan sambil berulang kali melihat jam tangan. Tipe ini biasanya milik mereka yang belum terlalu hapal jalanan Jakarta sehingga takut nyasar atau kelewatan dari tujuan plus takut telat masuk kantor sambil membayangkan wajah atasan yang bikin eneg… Maklum, pegawai baru.. Nggak boleh buat image nggak baik, dong??
4. Wajah cemberut, berulang kali lirak-lirik jam tangan, sambil berucap “Ck..ck..” (juga) berulang-ulang. Jelas banget nih. Tipe yang beginian pasti bukan karyawan baru (karena dia ga lirik kanan-kiri buat ngeliat destinationnya), tapi ini tipe karyawan yang udah telat (banget!!) ngantor (bahkan mungkin ada meeting??) & gelisah ngebayangin ditegur bos karena terlambat (lagi)
5. Tidur. Buat yang ini sih simpel aja. Either dia udah yakin banget ga bakal telat, udah biasa naik bus yang sedang ditumpanginya hari ini sehingga udah hapal banget dengan ritmenya & bisa bangun tepat sebelum bus tiba di tujuan (karena udah biasa tidur di bus.. Udah terlatih, gitu..), atau dia memang sama sekali nggak perduli dengan kemungkinan telat atau enggak karena udah bosan dengan omelan bos yang nggak kreatif tiap harinya… Hehehe..
6. Telfonan mulu sambil senyum2. Mungkin yang nelfon pacar ato gebetan. Makanya senyum2 najong..
7. Sibuk nerima telfon yang (kayaknya) dari atasan atau rekan kerja. Mungkin sedang ada deadline kerja, atau mungkin aja cuma pengen keliatan sibuk..
Sedangkan atmosfer sepulang kerja yang saya alami biasa berbanding terbalik 180 derajat dari apa yang saya alami di pagi hari. ‘Pemandangan’ sepulang kerja biasanya monoton : Semua orang mencoba untuk tidur. Tidak lagi memikirkan pekerjaan yang menumpuk yang ditinggalkan di kantor, tidak lagi gelisah memikirkan omelan atasan, tidak lagi kesal mikirin rekan kerja yang ‘banci tampil’ di depan atasan, melupakan gebetan di kantor, mengacuhkan rutinitas membosankan yang dialami setiap hari. Semuanya terhapuskan karena tenaga udah ‘terkuras’ habis nggak bersisa di’makan’ kerjaan.
“Semua bisa dipikirkan (lagi) besok. Sekarang yang penting tidur”
Tapi di luar itu semua, pemandangan yang sangat saya sukai adalah para pengamen atau penjaja jalanan yang naik-turun bus kota. Pemandangan yang terkadang lucu bahkan nggak jarang menyentuh.
Lucu, ketika saya mendengar suara-suara yang mencoba bernyanyi menghibur para penumpang. Besar-kecil, pria-wanita, para pengamen ini menghadirkan lagu2 yang nggak jarang unik dan menarik yang bahkan saya nggak tahu judulnya apa. Nggak jarang saya harus menahan tawa ketika mendengar suara yang sumbang keluar dari mulut2 pengamen anak-anak.. Saya belajar menghargai usaha mereka yang tanpa lelah mencari uang.. Saya belajar menghargai lagu yang mereka nyanyikan. Saya belajar menghargai usaha mereka berlatih untuk bisa menyanyikan lagu itu dengan baik (walaupun eksekusi-nya kurang berhasil, tapi saya cukup terhibur, tuh..)
Terharu, ketika saya melihat mereka berlalrian mengejar bus kota. Penjaja jalanan maupun pengamen-pengamen ini berjuang keras untuk menyambut hidup mereka. Lelah terpancar jelas dari wajah mereka. Tapi mereka berusaha untuk senantiasa ramah & tersenyum ketika menjajakan barang yang dijual ataupun ketika bernyanyi untuk menghibur penumpang. Naik-turun bus & berlarian mengejar bus seharian tentu bukan hal yang gampang untuk dilakukan. Saya sering membandingkan dengan keadaan saya yang duduk 8 jam penuh mengerjakan tugas kantor di ruangan yang full AC tapi tetap juga mengeluh karena lelah. Saya kadang malu sendiri. Mereka; para pejuang jalanan ini, bekerja keras dengan penghasilan yang seadanya, bahkan mungkin sangat sedikit.
Jangan lupakan para supir bus kota, metro mini, mikrolet, dsb, lengkap dengan para keneknya yang berlarian naik turun bus sambil menyerukan daerah2 yang dilewati angkutan tersebut. “Grogol..grogol..grogooolll!!!”, “Gading..gadung..gading..gadooong!!!”, “Mangun..mangun..!!”, “Blok M..Blok M..Blok M…!! Trakhir ni Mbak!! Terakheeeerrr!!!” (Biasanya itu jenis teriakan kenek pada malam hari mulai pukul 8-an). Hehehe…
Terlihat jelas para supir dan kenek ini lelah luar biasa, tapi mereka tetap melaksanakan tugasnya. Pernah saya mencoba ngobrol dengan supir angkutan yang saya tumpangi.
Saya : “Narik begini bisa dapet berapa seharinya, Pak?”
Pak Supir : “Ya tergantung, Neng.. Kalo ada sisa dari setoran ya Alhamdulillah.. Kalo nggak ada ya mau bilang apa.. Kadang dapet rejeki, kadang ndak ada,,”
Duh.. trenyuh banget ngedengarnya. Yang bikin saya makin terharu, si Bapak Supir ini terdengar sabar dan pasrah banget. He’s juz doin’ what what he can. The result is out of his hand to know.
Semua membuat saya belajar banyak. Beajar lebih sabar, belajar menghargai apa yang saya punya, belajar bersyukur dengan apa yang saya punya (& berusaha to gain more.. hehe..), belajar menghargai sesama, belajar untuk menjadi lebih HIDUP.